Showing posts with label Jawa. Show all posts
Showing posts with label Jawa. Show all posts

Saturday, September 3, 2011

Kejayaan Banten Mulai Sejak Abad 2 M


DEWAWARMAN mendirikan kerajaan yang terletak diujung barat Pulau Jawa, tepatnya di daerah selatan Propinsi Banten, atau Pandeglang yang beribukota di Rajatapura tahun 130 Masehi, atau abad 2 Masehi. Kerajaan tersebut bernama SALAKANAGARA yang berkuasa atas daerah bagian barat Pulau Jawa, semua pulau di bagian barat Pulau Jawa, Selat Sunda, Krakatau serta daerah pantai selatan Pulau Sumatera. Dewawarman yang menikah dengan Pohaci Larasati, pribumi putri dari seorang tetua yang dihormati di wilayah pesisir barat bernama Aki Tirem, mendapat pesan dari Aki Tirem untuk meneruskan kekuasaannya sesaat sebelum Aki meninggal. Dewawarman dengan serta merta menyambut tongkat estafet kekuasaan dengan dukungan para penduduk dengan membuat kerajaan yang resmi dengan nama Salakanagara, atau Negara Perak.   

Apabila kita membuka dan menyimak buku-buku pelajaran sejarah Indonesia, baik yang resmi digunakan di sekolah maupun buku sejarah bebas, kebanyakan kita hanya disuguhkan pengertian tentang keberadaan sejarah Banten dalam nuansa abad pertengahan, dari sekitar abad 16 hingga 19, yaitu dengan adanya catatan mengenai Kesultanan Banten yang mulai didirikan oleh Hasanuddin, putra Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati pada tahun 1526. Itupun masih terbatas pada era kejayaan Sultan Abulfath Abdulfatah yang lebih dikenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa yang memerintah dari tahun 1651 hingga 1683.

Memang pernah juga ditemukan dalam sedikit buku referensi sejarah Banten, dimana ditemukan Prasasti Munjul di tengah Sungai Cidanghyang, Munjul, Kabupaten Pandeglang yang tertulis dalam bahasa Sanskrit (Sansekerta) beraksara Pallawa. Tulisannya berbunyi “vikrantayam vanipateh, prabbhuh satyaparakramah, narendraddhvajabutena crimatah, purnnavarmmanah” yang terjemahannya kira-kira adalah “Penguasa dunia yang perkasa, prabu yang setia serta penuh kepahlawanan, yang menjadi panji segala raja, Purnawarman yang tersohor.” Purnawarman adalah raja diraja kerajaan besar yang juga pernah ada di daerah barat Jawa, yaitu Tarumanegara pada abad 5.

Ditemukannya peninggalan-peninggalan bernilai sejarah, seperti batuan-batuan menhir di Gunung Karang dan Pulosari (Pandeglang), punden berundak di Pegunungan Halimun (Lebak), arca-arca atau patung Trimurti, Agastya, Durga di daerah Pulosari, lalu arca Siwa, Ganesha di Pulau Panaitan menunjukkan bukti keberadaan suatu peradaban yang lebih maju dari sekedar gambaran manusia purba.

            Wacana ini tentu telah memberikan suatu gambaran luas bahwa Banten memiliki potensi untuk penelitian arkeologi yang dapat ditelusuri dan untuk mencari bukti-bukti lebih jelas mengenai sejarah masa silam yang pernah ada di tatar Banten. Hingga saat ini telah banyak arkeolog dan para ahli yang melakukan penelitian mendalam di beberapa tempat yang diperkirakan terdapat peninggalan-peninggalan baik yang berasal dari jaman Pleistosen, jauh sebelum Masehi, atau awal permulaan Masehi hingga jaman kesultanan Banten.

            Bisa disebutkan disini nama-nama ahli dan sejarawan yang membuktikan bahwa tatar Banten memiliki nilai-nilai sejarah yang tinggi, seperti Husein Djajadiningrat, Tb. H. Achmad, Hasan Mu’arif Ambary, Halwany Michrob dan lain-lainnya. Banyak sudah temuan-temuan mereka disusun dalam tulisan-tulisan, ulasan-ulasan maupun dalam buku. Belum lagi nama-nama seperti John Miksic, Takashi, Atja, Saleh Danasasmita, Yoseph Iskandar, Claude Guillot, Ayatrohaedi dan lain-lain yang menambah wawasan mengenai Banten menjadi tambah luas dan terbuka dengan karya-karyanya dibuat baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggeris.

KETURUNAN INDIA

            Nama Salakanagara tentunya masih sangatlah asing di telinga kebanyakan orang awam. Namun bagi para sejarawan atau para pemerhati sejarah, Salakanagara mungkin jadi adalah sebuah nama yang teramat akrab, terutama untuk penelitian ke arah pembuktian keberadaan sebuah pelurusan sejarah tentang adanya peradaban kerajaan tertua yang pernah ada di nusantara selain Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat dan Kerajaan Kutai (Bakulapura) di Kalimantan yang selama ini selalu disebut sebagai kerajaan tertua. Diperkirakan Kerajaan Salakanagara berdiri 100 tahun lebih awal dibanding Kutai.

            Ketiga kerajaan tersebut sebetulnya memiliki kisah perjalanan dan asal yang sama. Bila pendiri Salakanagara, Dewawarman adalah duta keliling, pedagang sekaligus perantau dari Pallawa, Bharata (India) yang akhirnya menetap karena menikah dengan puteri penghulu setempat, sedangkan pendiri Tarumanagara adalah Maharesi Jayasingawarman, pengungsi dari wilayah Calankayana, Bharata karena daerahnya dikuasai oleh kerajaan lain. Sementara Kutai didirikan oleh pengungsi dari Magada, Bharata setelah daerahnya juga dikuasai oleh kerajaan lain.

            Adalah Aki Tirem, penghulu atau penguasa kampung setempat yang akhirnya menjadi mertua Dewawarman ketika puteri Sang Aki Luhur Mulya bernama Pohaci Larasati diperisteri oleh Dewawarman. Hal ini membuat semua pengikut dan pasukan Dewawarman menikah dengan wanita setempat dan tak ingin kembali ke kampung halamannya.

            Ketika Aki Tirem meninggal, Dewawarman menerima tongkat kekuasaan. Tahun 130 Masehi ia kemudian mendirikan sebuah kerajaan dengan nama Salakanagara (Negeri Perak) beribukota di Rajatapura. Ia menjadi raja pertama dengan gelar Prabu Darmalokapala Dewawarman Aji Raksa Gapura Sagara. Beberapa kerajaan kecil di sekitarnya menjadi daerah kekuasaannya, antara lain Kerajaan Agnynusa yang berada di Pulau Krakatau (Krakatau saat itu masih luas dan berukuran besar dengan sebuah gunung berapi yang menjulang di tengahnya setinggi sekitar 2.000 meter sebelum akhirnya hancur lebur tahun 416 Masehi ketika letusan besarnya meluluh-lantakkan daratan itu hingga terpecah menjadi 3 bagian, yaitu Rakata, Sertung dan Panjang).

            Dengan mengambil tempat di Rajatapura sebagai ibukota kerajaan, Raja Dewawarman I memerintah selama 38 tahun dari tahun 130 sampai dengan 168 Masehi.

Sejak ditemukannya bekas peninggalan Kerajaan Salakanagara yang memiliki kekuasaan di daerah selatan Sumatera, Selat Sunda, Agnynusa (Krakatau), Pulau Panaitan, Ujung Kulon dan daerah Jawa Barat bagian barat, maka kajian sejarah nasional yang selama ini belum mengangkat keberadaan Salakanagara sebagai kerajaan tertua di nusantara perlu kiranya diperhatikan kembali sebagai aset yang sangat berharga, tentunya bagi masyarakat Banten khususnya terhadap kebanggaan daerah.

Salakanagara berdiri hanya selama 233 tahun, tepatnya dari tahun 130 Masehi hingga tahun 363 Masehi. Raja Dewawarman I sendiri hanya berkuasa selama 38 tahun dan digantikan anaknya yang menjadi Raja Dewawarman II dengan gelar Prabu Digwijayakasa Dewawarmanputra. Prabu Dharmawirya tercatat sebagai Raja Dewawarman VIII atau raja Salakanagara terakhir hingga tahun 363 karena sejak itu Salakanagara telah menjadi kerajaan yang berada di bawah kekuasaan Tarumanagara yang didirikan tahun 358 Masehi oleh Maharesi yang berasal dari Calankayana, India bernama Jayasinghawarman. Pada masa kekuasaan Dewawarman VIII, keadaan ekonomi penduduknya sangat baik, makmur dan sentosa, sedangkan kehidupan beragama sangat harmonis.

Perlu diketengahkan juga disini bahwa keturunan Dewawarman banyak yang kemudian mengembara ke daerah-daerah atau pulau-pulau lain. Kelak mereka yang laki-laki menjadi cikal bakal kerajaan-kerajaan yang pernah ada di nusantara ini, seperti Kerajaan Sriwijaya, Kutai, Majapahit, Singosari, Kalingga dll. Sementara anak wanita banyak yang menikah dengan raja atau putra raja.

KERAJAAN TARUMANAGARA
Jayasinghawarman sendiri sebetulnya adalah menantu sang Dewawarman VIII. Jadi apabila dirunut sejarahnya, bisa jadi Tarumanagara merupakan kerajaan yang besar dari hubungannya dengan Salakanagara. Sebagai menantu raja, maka tentunya ia mendapatkan banyak kemudahan, dari harta, uang maupun kekuasaan. Karena itu tak heran apabila ia hanya memerlukan 10 tahun untuk dapat mendirikan sebuah kerajaan yang beribukota di Jayasinghapura, nama yang diambil sesuai dengan namanya.

Ibukota Tarumanagara pindah ke Sundapura, daerah Bekasi pada jaman kekuasaan Sri Maharaja Purnawarman, raja Tarumanagara ke 3 yang merupakan cucu Jayasinghawarman. Purnawarman berkuasa pada tahun 395 hingga 434 Masehi dan pada masanya Tarumanagara kuat dalam angkatan perang dengan persenjataan yang lengkap, terutama angkatan lautnya. Karena saking kuatnya, setiap pertempuran selalu dimenangkannya, terutama menghadapi para perompak/bajak laut. Karena itu dibuatlah prasasti yang berada di aliran Sungai Cidanghyang, Munjul, Kabupaten Pandeglang yang menandakan Purnawarman sebagai penguasa termashur yang perkasa dan penuh kepahlawanan.

Saat Purnawarman wafat, kekuasaan Tarumanagara telah sangat luas dan meliputi Ujung Kulon, Salakanagara (Pandeglang), Lebak, Cilegon,  Kelapa Dua (Jakarta), Cirebon, Purwakarta, Bandung, Ciamis, Garut hingga Tasikmalaya. Bila dilihat pada peta, maka berarti Tarumanagara telah menjangkau seluruh area yang kini disebut Jawa Barat, Banten dan bahkan DKI Jakarta.

Tidaklah heran apabila orang lebih banyak mengenal Kerajaan Tarumanagara dengan rajanya, Purnawarman yang karena jasanya membawa Tarumanagara sebagai negara yang kuat dan termashur. Sama halnya dengan termashurnya Kesultanan Banten pada masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa yang seringkali disalahartikan oleh pelajar sekolah dengan “Sultan Agung (Hanyokrokusumo)” dari Kerajaan Mataram.

Namun Tarumanagarapun akhirnya mengalami masa peralihan ketika Sang Linggawarman, raja Tarumanagara ke 12 yang memerintah tahun 666 - 669 Masehi harus menyerahkan kekuasaan pada menantunya (karena ia hanya punya anak perempuan dan tak punya anak laki-laki).

KERAJAAN SUNDA
Tahun 669 sang menantu, Tarusbawa diangkat menjadi raja Tarumanagara ke 13. Ia mengganti nama Tarumanagara dengan nama baru “Kerajaan Sunda” dan memindahkan ibukotanya ke Pakuan (Bogor) sehingga ia menjadi raja pertamanya dan dengan demikian pula berakhirlah kejayaan Tarumanagara setelah selama 311 tahun (358 - 669 Masehi) menjadi kerajaan yang sangat kuat di kawasan barat Pulau Jawa.

Kerajaan Sunda berdiri tahun 669 dengan raja pertamanya Tarusbawa (669 – 723 M) dengan gelar Sang Sri         Maharaja Tarusbawa Darmawaskita Manumanggalajaya. Kerajaan yang lebih sering disebut dengan “Sunda Pajajaran” atau “Pajajaran” ini berumur sangat panjang hingga tahun 1579 Masehi atau tepatnya 910 tahun.

Tercatat ada 34 raja, sejak jaman Tarusbawa, berkuasa untuk Kerajaan Sunda dan 6 raja untuk Kerajaan Sunda Pajajaran. Prabu Dharmasiksa Sanghyang Wisnu merupakan raja ke 25 dengan masa kekuasaan paling lama, yaitu 122 tahun (1175 – 1297 M), kemudian Sang Niskala Wastu Kencana, raja ke 33, 104 tahun (1371 – 1475 M), sedangkan raja Sunda ke 34 atau terakhir, Prabu Susuktunggal, berkuasa selama 100 tahun (1382 –1482 M) di Pakuan  sebelum akhirnya menyerahkan kekuasaanya kepada Sang Manahrasa Jayadewata, putra Prabu Dewa Niskala, Raja Galuh. Dewa Niskala yang juga adik Prabu Susuktunggal, harus menyerahkan kekuasaan Galuh yang beribukota di Kawali pada anaknya. Sama halnya dengan Susuktunggal yang harus menyerahkan Pakuan kepada keponakan yang sekaligus menantu Susuktunggal karena menikah dengan putri Susuktunggal, Puteri Kentring Manik Mayang Sunda. Akibat konflik intern antar kakak adik itu dan untuk menghindari perpecahan yang lebih parah, maka diadakan musyawarah kekeluargaan yanng memutuskan agar Dewa Niskala turun tahta dari Galuh, sedangkan Susuktunggalpun harus turun tahta dari Kerajaan Sunda. Kedua kerajaan itu kemudian diserahkan kepada satu tangan kembali dibawah kekuasaan Jayadewata.

Sang Manahrasa Jayadewata inilah yang akhirnya dikenal dengan nama julukan Prabu Siliwangi atau Sang Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah raja Kerajaan Sunda atau Pajajaran yang paling termasyhur (1482 – 1521 M) karena pada masanya Pajajaran diperintah dengan adil, rakyatnya makmur dan sentosa, perdagangan sangat maju. Maka nama Prabu Siliwangi tak kalah harumnya dengan nama kakeknya Prabu Wangisutah Sang Niskala Wastu Kencana.

Kerajaan Sunda atau Pajajaran mulai surut semenjak Sang Prabu Siliwangi wafat tahun 1521 M. Tercatat ada 5 raja yang berturut-turut memegang tampuk pemerintahan sebelum akhirnya lenyap setelah dikuasai oleh Kesultanan Banten yang berpusat di Banten Lor (Banten Utara), sekitar 9 km utara kota Serang sekarang.

KESULTANAN BANTEN
Banten yang berdiri tahun 1526 sebagai Kadipaten di bawah Kerajaan Demak didirikan oleh Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati, salah seorang Wali Songo yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati dan juga merupakan cucu dari Sang Prabu Siliwangi. Adipati pertamanya adalah Hasanuddin, putra Syarif Hidayatullah. Tahun 1568 seiring dengan perkembangan pesat Banten, maka akhirnya Banten menjadi negara Islam yang berdaulat penuh dengan sebutan Kesultanan Banten dan Hasanuddin dinobatkan sebagai raja pertama dengan nama Maulana Hasanuddin (1568 – 1570 M).

Sementara Pajajaran makin kehilangan pamornya sebagai kerajaan besar. Raja yang berkuasapun semakin membawa kerajaan ini ke titik kehancuran. Bahkan raja terakhirnya, Prabu Ragamulya Suryakencana atau disebut Prabu Pucuk Umun tidak lagi memerintah di Pakuan setelah ibukota tersebut dihancurkan oleh pasukan Banten, melainkan di Pulosari, Pandeglang.

Sedangkan Banten sendiri di tangan Sultan Abulfath Abdulfatah, raja ke 5 Banten, menjadi negara yang sangat kuat, perdagangan yang maju, kehidupan ekonomi masyarakatnya begitu makmur dan jaya raya. Sultan ini membangun juga istana kesultanan di daerah Tirtayasa, maka itulah ia dikenal dengan sebutan Sultan Ageng Tirtayasa.

Setelah berdiri selama kurang lebih 300 tahun (sejak 1526 hingga sekitar 1830 M), akhirnya Kesultanan Bantenpun lenyap untuk selam-lamanya setelah penjajah Belanda  menguasai Banten sejak mereka berhasil menangkap Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1683. Mulai saat itulah kuku-kuku penjajah Belanda mulai dirasakan dan mencengkeram rakyat Banten, sementara kekuasaan raja Banten ke 6 hingga ke 20 atau terakhir, hanyalah sekedar simbol tanpa lagi memiliki kekuatan sementara Belanda semakin meraja-lela menguasai daerah Banten serta mengambil hasil bumi untuk dibawa ke Belanda.

Berakhirlah kejayaan tanah Banten yang telah dibangun sejak lebih dari seribu tahun yang lampau oleh duta keliling, pedagang dan perantau asal Pallawa, Bharata (India) yang bernama Dewawarman. Kejayaan yang dimulai tahun 130 Masehi oleh Kerajaan Salakanagara, lalu berturut-turut dilanjutkan oleh Tarumanagara, Sunda, Sunda Pajajaran dan akhirnya Kesultanan Banten, akhirnya lenyap untuk selama-lamanya 1700 tahun kemudian atau pada tahun 1830 ketika Belanda membumi-hanguskan kota Surosowan yang menjadi ibukota Kesultanan Banten. 

LETAK RAJATAPURA
            Setelah menilik cerita yang tersusun tadi, maka timbullah suatu pertanyaan yang menggelitik: “Dimanakah letak ibukota kerajaan tersebut? Pernahkah didapati penemuan-penemuan yang meyakinkan bahwa benar kerajaan tersebut ada?”

Penentuan lokasi bekas ibukota Salakanagara yang bernama Rajatapura sangatlah sulit, selain belum adanya kesamaan nama daerah, juga pencocokan data dari buku sejarah lama dengan data arkeologi sehingga memerlukan waktu yang cukup panjang untuk mengungkap keberadaannya.

Namun apabila mengutip dari hasil penelitian para ahli sejarah dan sumber-sumber tentang sejarah Banten, seperti buku susunan Drs. Yoseph Iskandar, dkk berjudul “Sejarah Banten”, penelusuran diarahkan ke Gunung Pulosari, Pandeglang dimana ditemukan arca-arca Hindu.

Dalam buku Pustaka Raja Bumi Nusantara tertulis bahwa Dewawarman memerintah Kerajaan Salakanagara dengan ibukotanya bernama Rajatapura yang terletak di tepi laut. Saleh Danasasmita memperkirakan bahwa lokasi pusat kota Rajatapura berada di muara Sungai Ciliman, wilayah Teluk Lada, Pandeglang.

Namun dengan beberapa pertimbangan yang mengukur masa 1870 tahun yang lampau dimana terjadi proses alam atau geologi, pembentukan endapan serta dilihat dari kedudukan ibukota, maka diperkirakan Rajatapura berlokasi di daerah yang kini disebut Mandalawangi, kota kecamatan di Kabupaten Pandeglang yang secara geografis sangat strategis, secara keamanan dan pertahanan terlindung oleh tiga buah benteng alam, yaitu Gunung Aseupan, Karang dan Pulosari.

Jadi bila kita kembali ke masa dimana raja terakhir Pajajaran, Prabu Pucuk Umun yang menghabiskan waktunya di Gunung Pulosari, ini seolah-olah menunjukkan seseorang yang terlahir dan mengembara ke tempat lain, namun akhirnya kembali juga ke tempat asalnya pada saat menghembuskan napas terakhirnya. Kerajaan yang dibangun tahun 130 M di tempat ini akhirnya harus lenyap di tempat yang sama 1449 tahun kemudian.

IBUKOTA KERAJAAN LAIN
              Bagaimana dengan ibukota dari kerajaan-kerajaan lain yang diceritakan tersebut, seperti ibukota Tarumanagara dan Sunda Pajajaran?
           
Ketika Jayasinghawarman mendarat di Pulau Jawa bagian barat, maka ia mendirikan padepokan atau pedesaan yang disebut Taruma-desya. 10 Tahun kemudian desa yang tersebut menjadi besar dan akhirnya dijadikan sebagai pusat kerajaan Tarumanagara. Nama ibukota tersebut adalah Jayasinghapura (Kota Jayasingha). Raja Purnawarman yang akhirnya memindahkan ibukota kerajaan ke sebelah utara Jayasinghapura dengan nama Sundapura (Kota Sunda).

            Diperkirakan Sundapura berada pada wilayah Bekasi, Jawa Barat di desa yang kini bernama Tarumajaya. Sementara belum diketahui dimana sebetulnya letak Jayasinghapura. Namun apabila mengikuti arah dalam sejarah, maka titik pada arah barat daya dari Sundapura ditemukan satu kota yang kini bernama Jasinga. Apakah nama ini merupakan penggalan dari Jayasinga? Ini perlu penelitian lebih jauh dan mendalam mengenai otentisitas kebenarannya.

            Kemudian ibukota kerajaan Sunda Pajajaran yang bernama Pakuan. Dipastikan bahwa lokasinya berada di daerah Bogor.  Dalam Carita Parahyangan tertulis adanya 5 buah Keraton yang didirikan oleh Tarusbawa, dengan posisi yang berjajar dalam bentuk dan besarnya sama persis. Posisi yang berjajar inilah yang membawa istilah pa-jajar-an sehingga Kerajaan Sunda lebih dikenal dengan nama Pajajaran.

            Keraton yang disebut Sri Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati ini didirikan di atas bukit dan lokasi itu kini sayangnya telah didirikan villa peristirahatan pembesar negeri ini. Sementara tersebutlah juga mengenai tempat suci bernama Sanghyang Rancamaya yang terletak diatas bukit, tempat diperabukannya jenazah raja-raja Sunda, sudah tak ada lagi bekasnya karena telah menjadi daerah perumahan elit.

            Yang terakhir, Kerajaan Galuh yang berada di daerah Ciamis dengan ibukota Kawali, dimana Prabu Dewa Niskala, ayah kandung Sang Manahrasa Jayadewata atau kelak dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi, pernah berkuasa, dapat diperkirakan bahwa lokasi pusat kota Kawali berada pada kota kecamatan yang kini juga bernama Kawali, sekitar 10 km arah utara Ciamis.

            Jadi kita dapat menarik kesimpulan dari runutan sejarah yang pernah terjadi di tanah Banten ini bahwa ternyata ada yang pernah tertinggal dalam pengembangan informasi pengetahuan tentang sejarah lama bangsa ini. Walau telah banyak sejarawan yang mencoba mengangkat keberadaan masa lalu yang pernah jaya dari tanah Banten ini, namun upaya tersebut rupanya belum membawa hasil yang maksimal. Banten hingga kini hanya terkenal dengan Kesultanan Banten dan Sultan Ageng Tirtayasanya. Selebihnya, ternyata survey membuktikan bahwa 95% dari masyarakat dan bahkan dari para legislatif, eksekutif serta para pendidik masih belum mengetahui adanya sejarah kejayaan Banten yang dimulai pada tahun 130 Masehi.

            Memang perlu waktu, tenaga dan biaya untuk mensosialisaikan sejarah bangsa yang semestinya menjadi kebanggaan nasional, khususnya kebanggaan masyarakat Banten, karena bertolak dari peradaban pemerintahan kerajaan yang berlokasi di Pandeglang, Banten, itulah kelak berdiri kerajaan-kerajaan kecil maupun besar yang pernah ada di nusantara ini.

            Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu bangga dan menghargai sejarahnya dan juga menghormati pahlawannya. Maka itulah sudah semestinya kita bersama-sama memelihara kejayaan bangsa ini dan terus melestarikan peninggalannya agar tetap abadi hingga cucu kita akan dapat mengetahui betapa bangsa kita adalah bangsa yang besar dan beradab sejak jaman dahulu kala....

*****


(Disarikan oleh Wishnu HS Al Bataafi. Diambil dari berbagai sumber) 

Wednesday, August 31, 2011

TARUMANAGARA

(Source: wikipedia.org)

Tarumanagara atau Kerajaan Taruma adalah sebuah kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah barat pulau Jawa pada abad ke-4 hingga abad ke-7 M. Taruma merupakan salah satu kerajaan tertua di Nusantara yang meninggalkan catatan sejarah. Dalam catatan sejarah dan peninggalan artefak di sekitar lokasi kerajaan, terlihat bahwa pada saat itu Kerajaan Taruma adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu.

Sumber Sejarah

Bila menilik dari catatan sejarah ataupun prasasti yang ada, tidak ada penjelasan atau catatan yang pasti mengenai siapakah yang pertama kalinya mendirikan kerajaan Tarumanegara. Raja yang pernah berkuasa dan sangat terkenal dalam catatan sejarah adalah Purnawarman. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga (Kali Bekasi) sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.
Bukti keberadaan Kerajaan Taruma diketahui dengan tujuh buah prasasti batu yang ditemukan. Empat di Bogor, satu di Jakarta dan satu di Lebak Banten. Dari prasasti-prasasti ini diketahui bahwa kerajaan dipimpin oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358 M dan beliau memerintah sampai tahun 382 M. Makam Rajadirajaguru Jayasingawarman ada di sekitar sungai Gomati (wilayah Bekasi). Kerajaan Tarumanegara ialah kelanjutan dari Kerajaan Salakanagara.

 

Prasasti yang ditemukan

Prasasti Tugu

 

  1. Prasasti Kebon Kopi, dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor
  2. Prasasti Tugu, ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.
  3. Prasasti Cidanghiyang atau Prasasti Munjul, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten, berisi pujian kepada Raja Purnawarman.
  4. Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor
  5. Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor
  6. Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor
  7. Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor

Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.

Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah "kota pelabuhan sungai" yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.

Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke-16.

 

Prasasti Pasir Muara

Di Bogor, prasasti ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya. Dalam prasasti itu dituliskan :
ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda
Terjemahannya menurut Bosch:
Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.
Karena angka tahunnya bercorak "sangkala" yang mengikuti ketentuan "angkanam vamato gatih" (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi.

 

Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Ci Aruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Ci Sadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sansekerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:
vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam
Terjemahannya menurut Vogel:
Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.
Selain itu, ada pula gambar sepasang "pandatala" (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan &mdash& fungsinya seperti "tanda tangan" pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama "Rajamandala" (raja daerah) Pasir Muhara.

 

Prasasti Telapak Gajah

Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:
jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam
Terjemahannya:
Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.
Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah.

Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai "huruf ikal" yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Taruma dan ukiran sepasang "bhramara" (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala "kemudaan" nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.

 

Prasasti Jambu

Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:
shriman data kertajnyo narapatir - asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam - padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam - bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.
Terjemahannya menurut Vogel:
Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.

 

Sumber berita dari luar negeri

Sumber-sumber dari luar negeri semuanya berasal dari berita Tiongkok.
  1. Berita Fa Hien, tahun 414M dalam bukunya yang berjudul Fa Kao Chi menceritakan bahwa di Ye-po-ti ("Jawadwipa") hanya sedikit dijumpai orang-orang yang beragama Buddha, yang banyak adalah orang-orang yang beragama Hindu dan "beragama kotor" (maksudnya animisme). Ye Po Ti selama ini sering dianggap sebutan Fa Hien untuk Jawadwipa, tetapi ada pendapat lain yang mengajukan bahwa Ye-Po-Ti adalah Way Seputih di Lampung, di daerah aliran way seputih (sungai seputih) ini ditemukan bukti-bukti peninggalan kerajaan kuno berupa punden berundak dan lain-lain yang sekarang terletak di taman purbakala Pugung Raharjo, meskipun saat ini Pugung Raharjo terletak puluhan kilometer dari pantai tetapi tidak jauh dari situs tersebut ditemukan batu-batu karang yg menunjukan daerah tersebut dulu adalah daerah pantai persis penuturan Fa hien
  2. Berita Dinasti Sui, menceritakan bahwa tahun 528 dan 535 telah datang utusan dari To-lo-mo ("Taruma") yang terletak di sebelah selatan.
  3. Berita Dinasti Tang, juga menceritakan bahwa tahun 666 dan 669 telah datang utusan dari To-lo-mo.
Dari tiga berita di atas para ahli menyimpulkan bahwa istilah To-lo-mo secara fonetis penyesuaian kata-katanya sama dengan Tarumanegara.
Maka berdasarkan sumber-sumber yang telah dijelaskan sebelumnya maka dapat diketahui beberapa aspek kehidupan tentang Taruma.

Kerajaan Tarumanegara diperkirakan berkembang antara tahun 400-600 M. Berdasarkan prasast-prasati tersebut diketahui raja yang memerintah pada waktu itu adalah Purnawarman. Wilayah kekuasaan Purnawarman menurut prasasti Tugu, meliputi hapir seluruh Jawa Barat yang membentang dari Banten, Jakarta, Bogor dan Cirebon.

 

Kepurbakalaan Masa Tarumanagara

Candi Jiwa di Situs Percandian Batujaya

No. Nama Situs Artepak Keterangan
1 Kampung Muara Menhir (3)


Batu dakon (2)


Arca batu tidak berkepala


Struktur Batu kali


Kuburan (tua)
2 Ciampea Arca gajah (batu) Rusak berat
3 Gunung Cibodas Arca Terbuat dari batu kapur


3 arca duduk


arca raksasa


arca (?) Fragmen


Arca dewa


Arca dwarapala


Arca brahma Duduk diatas angsa
(Wahana Hamsa)
dilengkapi padmasana


Arca (berdiri) Fragmen kaki dan lapik


(Kartikeya?)


Arca singa (perunggu) Mus.Nas.no.771
4 Tanjung Barat Arca siwa (duduk) perunggu Mus.Nas.no.514a
5 Tanjungpriok Arca Durga-Kali Batu granit Mus.Nas. no.296a
6 Tidak diketahui Arca Rajaresi Mus.Nas.no.6363
7 Cilincing sejumlah besar pecahan settlement pattern
8 Buni perhiasan emas dalam periuk settlement pattern


Tempayan


Beliung


Logam perunggu


Logam besi


Gelang kaca


Manik-manik batu dan kaca


Tulang belulang manusia


Sejumlah besar gerabah bentuk wadah
9 Batujaya (Karawang) Unur (hunyur) sruktur bata Percandian


Segaran I


Segaran II


Segaran III


Segaran IV


Segaran V


Segaran VI


Talagajaya I


Talagajaya II


Talagajaya III


Talagajaya IV


Talagajaya V


Talagajaya VI


Talagajaya VII
10 Cibuaya Arca Wisnu I


Arca Wisnu II


Arca Wisnu III


Lmah Duwur Wadon Candi I


Lmah Duwur Lanang Candi II


Pipisan batu

 

Naskah Wangsakerta

Penjelasan tentang Tarumanagara cukup jelas di Naskah Wangsakerta. Sayangnya, naskah ini mengundang polemik dan banyak pakar sejarah yang meragukan naskah-naskah ini bisa dijadikan rujukan sejarah.
Pada Naskah Wangsakerta dari Cirebon itu, Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman (382-395). Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati, sedangkan putranya di tepi kali Candrabaga.

Maharaja Purnawarman adalah raja Tarumanagara yang ketiga (395-434 M). Ia membangun ibukota kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai. Dinamainya kota itu Sundapura--pertama kalinya nama "Sunda" digunakan.
Prasasti Pasir Muara yang menyebutkan peristiwa pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu dibuat tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa Tarumanagara adalah Suryawarman (535 - 561 M) Raja Tarumanagara ke-7. Pustaka Jawadwipa, parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) memberikan keterangan bahwa dalam masa pemerintahan Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara. Ditinjau dari segi ini, maka Suryawarman melakukan hal yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya.

Rakeyan Juru Pengambat yang tersurat dalam prasasti Pasir Muara mungkin sekali seorang pejabat tinggi Tarumanagara yang sebelumnya menjadi wakil raja sebagai pimpinan pemerintahan di daerah tersebut. Yang belum jelas adalah mengapa prasasti mengenai pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu terdapat di sana? Apakah daerah itu merupakan pusat Kerajaan Sunda atau hanya sebuah tempat penting yang termasuk kawasan Kerajaan Sunda?

Baik sumber-sumber prasasti maupun sumber-sumber Cirebon memberikan keterangan bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah kekuasaannya mencakup pula pantai Selat Sunda. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159 - 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah. Secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.

Kehadiran Prasasti Purnawarman di Pasir Muara, yang memberitakan Raja Sunda dalam tahun 536 M, merupakan gejala bahwa Ibukota Sundapura telah berubah status menjadi sebuah kerajaan daerah. Hal ini berarti, pusat pemerintahan Tarumanagara telah bergeser ke tempat lain. Contoh serupa dapat dilihat dari kedudukaan Rajatapura atau Salakanagara (kota Perak), yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150 M. Kota ini sampai tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I - VIII).

Ketika pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumangara, maka Salakanagara berubah status menjadi kerajaan daerah. Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.

Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.

Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Pada tahun 669, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Secara otomatis, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh kepada menantunya dari putri sulungnya, yaitu Tarusbawa.
Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sunda yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari Sunda yang mewarisi wilayah Tarumanagara.

Raja-raja Tarumanagara menurut Naskah Wangsakerta

Raja-raja Tarumanegara
No Raja Masa pemerintahan
1 Jayasingawarman 358-382
2 Dharmayawarman 382-395
3 Purnawarman 395-434
4 Wisnuwarman 434-455
5 Indrawarman 455-515
6 Candrawarman 515-535
7 Suryawarman 535-561
8 Kertawarman 561-628
9 Sudhawarman 628-639
10 Hariwangsawarman 639-640
11 Nagajayawarman 640-666
12 Linggawarman 666-669